“Kok Gak Berubah Sih, Dil?”

Di usia saya yang sudah kepala tiga ini, saat bertemu dengan teman-teman sekolah atau kuliah, rata-rata komentar mereka sama: “kok kamu gak berubah sih, Dil!”. Jika saya adalah seorang optimist, saya bisa mengartikan kalimat tersebut sebagai: saya tampak awet muda dan segar (ha!). Sayangnya kecenderungan saya adalah pessimist, sehingga saya mengartikan kalimat tersebut sebagai: gaya saya tidak ada peningkatan.

Saat ini potongan rambut saya masih bondol, cara berpakaian saya masih sama seperti saat usia 20an, masih pakai sneakers ke mana-mana, masih pakai backpack ke kantor, dan saya tidak kunjung bisa dan mau berdandan. Sementara teman-teman saya, terutama yang perempuan, perbandingannya jauh berbeda: dulu mereka nampak polos; sekarang lebih suit-up, rambut blow mateng, dan ada secercah makeup dekoratif untuk menunjang penampilan sehari-hari. Ibarat kata foto before-after, kelihatan bedanya. Sementara saya? Ya gini-gini aja. Ada lah, sedikit perubahan. Misalnya, pakai brow filler biar alisnya sedikit framing walau bukan alis tajam runcing yang kece banget itu, mulai pakai lipstik walau warnanya selalu subtle dan di tengah hari biasanya sudah hilang entah ke mana, berusaha rutin pakai sunblock karena kulit tidak lagi muda, dan lain sebagainya. Tapi secara keseluruhan sih wujudnya tetap sama-sama saja.

Terkadang ada rasa ingin melakukan perubahan ekstrim terhadap penampilan demi ‘ingat umur’. Tetapi kemudian saya berpikir, alasan tersebut tidak cukup kuat; di hati dan di dompet ahaha. Iyalah, perubahan kan butuh modal. Oke, ambil contoh dari departemen busana aja deh. Isi lemari saya kebanyakan isinya t-shirt. Jika saya mau sok melakukan major change, mungkin saya harus membuang semuanya dan berbelanja gila-gilaan demi mengganti isinya dengan blus atau apapun yang lebih proper untuk usia saya. Tapi kemudian saya menyadari sesuatu: 3-4 tahun yang lalu, t-shirt band dan film mendominasi isi lemari saya. Sekarang, kok kuantitasnya lebih sedikit dan tergantikan dengan t-shirt polos atau pattern semacam stripes, ya? Dulu saya juga sepertinya hanya punya bawahan denim. Sekarang cuma ada 2 jeans, dan lebih banyak cotton pants. Lho? Kapan pergeseran itu terjadi? Sepertinya perlahan-lahan sekali ya? Saya sering menggunakan sistem one in one out untuk mengatur lemari pakaian saya, jadi aneka t-shirt print dan jeans itu pastinya tergeser pelan-pelan sekali, over time.

Sejak menyadari hal itu, saya jadi berdamai dengan diri sendiri. Ternyata begitulah adanya ritme saya berkaitan dengan penampilan: semacam late bloomer. Ketika fase ini terjadi pada orang lain di ujung waktu kuliah mereka, saya baru memulainya sekarang. Mungkin butuh waktu beberapa tahun lagi untuk akhirnya isi lemari dan penampilan saya menyamai wanita-wanita dewasa pada umumnya. Atau mungkin malah tidak sama sekali? Tidak apa-apa. Yang pasti, jika suatu hari nanti saya tergerak untuk menambahkan sesuatu atau mengubah penampilan saya, biarlah prosesnya terjadi perlahan-lahan. Sepanjang saya merasa perlu, mau, dan mampu. Buat apa memaksakan, toh ini kan hanya di permukaan.

Mengurai Isi Kepala

Sudah lama sekali saya ingin kembali menulis. Ya, setiap hari saya menulis sih; mulai dari tweet-tweet brainfart, catatan meeting, sampai mengarang indah buat ngisi deck. Tapi yang semacam ini, yang saya lakukan saat ini, lewat tengah malam, sambil mendengarkan suara 1-2 motor yang lalu lalang di jalan depan kosan; rasanya kok sudah lama tidak.

Kalimat pertama di post ini tampak ‘wah’, ya. Padahal tulisan macam apa coba yang akan saya hasilkan. Hanya life journals, dengan gaya penulisan yang gitu-gitu aja. Yah, sebenarnya saya juga tidak berani mengaku bahwa menulis adalah wahana saya mengekspresikan diri, atau betapa saya punya passion di bidang tulis menulis. Kebetulan pekerjaan saya memang berhubungan dengan pembuatan konten, tapi tentunya tidak semata-mata membuat saya jadi penulis. Ada satu rekan kerja saya yang sering melontarkan kalimat, “Ah, emang susah ngobrol sama penulis. Bisa aja ngebolak-balik kata!”. Perihal ‘ngebolak-balik kata’ yang teman saya bilang itu, sebenarnya hanya joke receh yang biasa kita temui di twitter, yang karena saking seringnya saya lihat, saya mampu meniru dan memodifikasinya. Outtake-nya kebetulan lucu, dan mendadak titel ‘penulis’ disematkan kepada saya. Saya pun hanya bisa membalas dengan, “Heleh, penulis apaan…”

Pada dasarnya saya selalu takut dengan label. Karena di label tersemat ekspektasi. Sejak saya di bangku sekolah, entah kenapa saya selalu diidentikkan dengan ‘kreatif’, hanya karena saya suka menggambar. Ketika kuliah, saya mulai kerja sambilan sebagai penyiar radio dan saya dibilang ‘lucu’. Kemudian saya bekerja di Jakarta, icip-icip dunia digital content marketing dan seketika titel ‘penulis’ melekat kepada saya. Mungkin buat individu-individu alpha, keadaan semacam itu akan jadi sebuah challenge. Sementara buat saya, jadi sebuah kecemasan. Anxiety.

Samar-samar saya masih ingat, beragam effort extra yang harus saya lakukan supaya bisa memenuhi ekspektasi orang-orang; yang mana mereka pikir, saya lakukan absentmindedly. Orang-orang tidak tahu, betapa saya sangat cranky di suatu malam ketika saya kurang tidur, tapi harus ngemsi keesokan paginya dengan materi yang sangat serius, dan saya diharapkan untuk mencairkan suasana karena saya ‘anaknya jago ngelucu’. Orang-orang tidak tahu, betapa kemampuan bahasa Inggris saya yang pas-pasan ini membuat saya harus bolak-balik ngecek translator dan grammar, saat diminta membuat 1 paragraf tulisan saja, dan saya diharapkan untuk membuat tulisan yang bagus karena saya ‘anak content’. Orang-orang tidak tahu, betapa saya menghabiskan semalam suntuk untuk mempelajari cara menggunakan pen tablet dan Adobe Illustrator, saat saya diharapkan untuk membuat sebuah karya yang diharapkan bagus secara estetika, karena saya ‘anaknya kreatif’.

Dil, tapi itu kan profesional? Atas nama kerjaan?
Kamu dibayar kan buat melakukan itu semua?
Berarti wajar dong kalo ada ekspektasi?

Ya. Tepat sekali. Itu dia yang membuat saya merasa semakin tidak berarti, bahkan mulai mempertanyakan hal-hal seperti, “am I qualified for this job?”, atau “why am I doing this in the first place?”, atau “this is fun at the beginning, why is it so suffering now?”. Kemudian ketika saya berusaha mengidentifikasi, hal-hal yang saya lakukan jadi terasa berat karena label-label itu muncul. Ekspektasi-ekspektasi itu bukan sebatas ‘menyelesaikan pekerjaan’, tapi ‘menyelesaikan pekerjaan dengan hasil di atas rata-rata karena kamu kan anaknya [insert sebuah label di sini]’. Anxiety.

Maka di sinilah saya. Malam ini kembali menulis untuk sort things out, dan membuat sebuah reminder kepada diri saya sendiri. Bahwa saya tidak bertanggung jawab atas isi kepala orang lain. Saya tidak selalu punya kewajiban untuk menjelaskan apapun kepada siapapun. Yang harus saya lakukan hanyalah melakukan semampu saya, sebaik mungkin. Kalau ternyata kurang lucu, kurang kreatif, kurang bagus tulisannya; paling tidak segala kecemasan yang menyelimuti saat saya berproses tidaklah ada. Sungguh, saya harus berhenti cemas berlebihan dan mengkhawatirkan label-label itu, yang akhirnya membuat saya tidak menikmati apapun yang saya lakukan. Lebih baik fokus untuk jujur berkarya, berucap, bertingkah laku, dan melewati setiap tahapnya sedikit demi sedikit. Toh semuanya akan lewat pada akhirnya.

So let’s not stress ourselves out about things we can’t control or change. In my case, those labelings. Not easy, but let’s carry on. And by the way…screen-shot-2016-11-20-at-2-18-52-amSo yeah.

Tentang Berhenti Minum Kopi

Kemarin malam pergi bertemu seorang teman, di sebuah coffee shop yang tempatnya menyenangkan, di daerah Ahmad Dahlan. Duduk di teras, cuaca sejuk sehabis hujan, speaker mengalunkan lagu-lagu yang kecocokannya 80% dengan playlist kesukaan; sempet tiba-tiba sekelebatan kepikiran, “ngopi enak sih ini”. But I ignored that feeling and ordered hot chocolate instead.

Aku berhenti rutin (?) minum kopi 3 tahun yang lalu. Tepatnya di bulan Ramadan 2013, saat asam lambung jadi mudah sekali naik. Sebenarnya kurang tepat jika menyalahkan kopi sebagai biang keladi perut yang mudah melilit. Kebetulan gaya hidupku di fase hidup saat itu memang ngga terlalu baik: makan ngga teratur, menu asal, kurang tidur, kurang olahraga, sering bokek, dan galau berkepanjangan (wait). Well, sampai sekarang sih, cuma pikiran sudah jauh lebih tenang dan sober. Ya pokoknya itulah. Tapi karena kasus perut melintir selalu terjadi seusai minum kopi, apa boleh buat, dikurangilah ngopinya.

Kopi yang biasa aku minum dulu hanyalah kopi hitam. You know, bubuk kopi dan gula. Itu saja. Minum kopi biasanya 2-3 kali sehari, pagi dan malam itu pasti, siang/sore occasionally. Yang pasti, kopi saat itu bukan sekedar minuman rekreasi. Kurang aja gitu rasanya kalo ngga ngopi. Tapi jangan tanya jenis-jenis kopi ke aku deh. I rrrreally have no idea. Biasanya ya beli kopi bubuk Kapal Api di Indomaret, atau cuma capcipcup dari sekian banyak list nama-nama kopi yang terpampang di chalkboard di atas counter coffee shop yang fancy-fancy itu. Apa aja asal tidak ditambah susu, krimer, dan lain-lain. Apa coba kalo gitu namanya? Doyan, tapi ngga fanatik? Mungkin. Kaya makan nasi aja gitu. Tau enak, butuh dan pengen makan terus, tapi ngga bother nanya: nasi ini dari beras apa? Nanem padinya di daerah mana? Intinya di kepalaku cuma ada kategori ‘kopi enak’ sama ‘kopi enak banget’ (coffee snob would hate me? Perhaps?).

Ketika akhirnya memutuskan untuk mengurangi minum kopi, bahkan kemudian bisa bertahan hari demi hari tanpa kopi; ternyata tidak begitu susah. When the desire of sipping coffee emerged, I replaced it with tea. Atau Nutrisari hangat. Atau coklat hangat. Just like that. Tidak terjadi yang namanya sakau kopi, atau apapun. Hal tersebut membuatku sadar, mungkin sebenernya dari dulu aku ngga segitu-gitunya amat sama kopi. Tidak HARUS kopi, tapi bisa apa saja, yang penting hangat dan tidak manis. Mungkin dulu cuma terbawa keadaan (nongkrong di coffee shop? Ya minum kopi, dong. Begadang? Ya ngopi dong). Padahal fungsi kopi yang katanya bisa bikin melek juga ngga segitunya ngefek di aku. Kalo melek ya melek aja, kalo ngantuk ya ngantuk aja. Minum air putih dingin malah terbukti bisa bikin jreng mata kalo lagi slow hours di kantor. You know, that afterlunch hours. That habis-kena-nasi hours.

Sekarang sih kalo ditawarin kopi, ya tetep diminum. Ngerasain enaknya pun jelas masih. Hanya saja beliau tidak lagi menjadi preferensi. Duduk di Starbucks, belinya bottled juice (cheapskate in me cheering). Nongkrong di bistro-bistro tsantik, ordernya teh. I get that ‘padahal-keliatannya-lo-anaknya-ngopi-banget-lho’ a lot (i don’t really sure what ‘ngopi banget’ means anyway), tapi ya gimana, hirup-hirup wangi teh chamomile kok rasanya lebih syahdu sambil obrol-obrol gitu. But um let’s not start the ‘coffee person’ and ‘tea person’ thingy. Apapun yang ada bakal tetep aku minum kok. Yang penting anget. Karena kita semua butuh kehangatan, bukan? (wut)

We Made It This Far

Seiring dengan berjalannya waktu, mau gak mau, sadar gak sadar manusia pasti bakal ‘leveling up’. Ibarat game, di setiap level kehidupan, challenge-nya pasti bakal lebih berat. Sekali kita melewati challenge di sebuah level, challenge di level sebelumnya pasti akan terasa lebih gampang.

Inget ngga sih dulu jaman masih sekolah, permasalahan pualing berat itu adalah ujian, PR numpuk, cinta bertepuk sebelah tangan, atau bahkan peer pressure. Setelah agak jadi dewasa muda yang punya tanggung jawab kerjaan, hal-hal jaman sekolah itu jadi terasa sangat sepele. Apalah artinya bikin PR dibandingkan nyiapin presentasi yang bakal dijual di depan klien dan potensial jadi billing terbesar perusahaan? Apalah artinya peer pressure ngga bisa main bareng geng populer di sekolahan, dibanding ngga bisa nemuin minat diri sendiri dan cuma gelinding ngikuti arus 9 to 5? Pun mungkin setelah dewasa, untuk masalah percintaan, kita sudah lebih tambeng dan skeptis menghadapi kekecewaan, dan ga mudah termehek-mehek oleh si love interest.

Setiap orang punya quest dan challenge-nya masing-masing, dan memang gak pantes buat dibanding-bandingkan. Yang boleh dibandingkan, ya cuma experience diri sendiri saja. Apakah kita yang sekarang sudah lebih ‘naik kelas’ dalam problem handling dibanding diri kita yang dulu? Apakah kita yang sekarang masih jatuh ke lubang yang sama seperti kita yang dulu? Apakah kita masih saja berkutat ke masalah yang itu-itu saja? Yang bisa nge-review ya kita-kita ini sendiri saja.

Jadi, berbahagialah. Diri kita yang sekarang ini adalah buah perjalanan dari terseok-seok tahun-tahun yang lalu. Kalo kamu sekarang sedang bersedih karena sebuah unsolved problem, ingatlah, dulu kita yang remaja pernah menangis tersedu dan merasa jadi orang paling malang sedunia karena sebuah masalah yang kalo kita inget lagi sekarang kita akan berujar, “apa sih?”. Nah sama, masalah yang sekarang kita alami akan lewat juga (dan mungkin akan kita tertawakan di kemudian hari) kalo kita berdoa dan berusaha. Jangan ilang semangat aja pokoknya ya.

Remember, we made it this far, folks.

*toss macho*

To the Boy Who Loves to Play in the Magical Forest

IMG_0117

Sebelum kamu menggenggam tanganku pada malam itu,
aku nyaris lupa rasanya;
letupan kembang api di dalam dada,
tertawa lepas di pagi buta,
atau menyesap rasa hangat dari sebuah pandangan mata.

Kamu adalah perwujudan lengkap dari semangat yang kucari selama ini:
Jiwa penuh energi yang tak bisa dikekang,
tapi tak pernah lupa jalan menuju pulang.

Belum terlalu lama kita bersama, tapi aku sangat menikmati setiap saatnya:
menyusuri lorong penuh buku dan kaset lama,
membahas dan berdebat tentang apa saja,
menertawakan hal-hal sederhana,
perjalanan panjang dengan kereta,
tersesat hingga ujung kota Jakarta,
bahkan saling meninggikan suara lalu berpelukan setelahnya.

Tadinya aku tidak ingin tulisan ini menjadi melankolia,
tapi tentangmu, rasanya jadi begitu banyak cerita.

Saat ini, sekarang ini,
memang bukan saat yang paling mudah bagi kita:
Aku berjibaku untuk mimpiku,
kamu berjuang untuk masa depanmu.

Tapi tidak apa-apa, tidak apa-apa,
karena kamu tahu?
Kamu punya aku. Dan aku punya kamu.
Pun aku selalu ingat katamu;
usaha yang baik, pasti akan memberikan hasil yang baik pula.

Jadi, tetap semangat ya?
I believe in you, so you should believe in yourself too.

Mari membuat sebanyak-banyaknya kebahagiaan,
dan menikmati kesusahan tanpa saling meninggalkan.