Akhirnya tiba saatnya aku mencentang checklist “nonton L’Arc~en~Ciel live performance” dalam kitab Konser Wajib Tonton versi sayah sendiri. Ya, yang itu. L’Arc~en~Ciel 20th Anniversary World Tour : Live in Jakarta, 2 Mei lalu di Lapangan D Senayan. Ah. Such a bliss :’)
Walau pun banyak teman-teman yang ngeceng-cengin : “Aaah ngapain sih lo nonton laruku!” atau “Anjis, laruku band apaan tuh?” atau sampe yang bikin pengen nebalikin meja tumpeng “Laruku bukannya boyband ya?” …. Aaaaku ndak peduli :’) Terserahlah mereka mau bilang apa. Aku datang bukan karena suka sama personilnya yang tsakep atau maniak sama segala yang kejepang-jepangan. I just need to feed my childhood fantasy. Betapa musik Laruku selalu membawa imajinasi ke negeri utopia berlangit sewarna pelangi. Betapa hambatan bahasa seakan ngga ada artinya. Betapa musik Laruku senantiasa membawa rasa bahagia yang entah apa namanya.

Di venue, posisi nontonku ngga begitu deket sih. Di antara row VIP yang pas depan panggung dan row reguler yang crowdnya nampak seru sekali. Udah cukup gembira, pake banget. Meski Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki-nya baru bisa keliatan wujud aslinya kalo jinjit-jinjit; tapi bigscreen nan mencrang itu udah cukup banget deh. Angle syutnya juga oke, jadi efek dramatis yang ditunjang sama backscreen yang menampilkan tema antariksa dan image-image utopian itu dapet banget. FYI, itu imagenya parah bagusnya. Bisa jadi film atau game sendiri kali. Masalah sound juga ngga ada hambatan yang berarti, just superfine.
Setlistnya? Banyak! Dua jam lebih, dan lagu-lagu yang emang familiar sama fans Indonesia keluar semua, mulai dari Stay Away, Ready Steady Go, Hitomi No Juunin, Revelation, Driver’s High, Honey, sampe yang baru-baru macem Seventh Heaven atau XXX. Aku dan Lele, temen nonton bareng, bener bersenang-senang. Ngeliatin om Hyde yang kedip-kedip manja meluluk, om Tetsu yang atraktip banget sama si bass pink, om Ken yang cool main gitar sambil meroko, dan Yuki yang kalem tampangnya tapi menggila di balik drum-setnya. Oh iya, selain Lele, ada si Daus juga, seorang penikmat pangrok yang tadinya cih cih sama Laruku. But at the end of the show, Daus mengakui Laruku really put on a good show. Lepas dari selera musiknya, showmanship dan musikalitas Laruku emang keren, katanya. Kan? Kan? :D

Oh iya, speaking of showmanship, tersebutlah sebuah gimmick di mana Ken ngebacain sebuah teks A4 yang isinya cerita pengalamannya cari hadiah buat Hyde di Pasaraya, dengan bahasa Indonesia. Logat khas Nihon-jin yang lucuk, contekan yang usil-setengah-ngerjain-gue-rasa dan seruan “Mantap!” berkali-kali dari Ken, hanjislah, bikin ngakak. Hyde dan Tetsu juga berkali-kali berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Bukan cuma 1-2 kata, tapi beberapa kalimat utuh. Ah. Mereka memang adorable.
Momen paling magical dari konser ini adalah ketika Laruku kembali dari balik panggung untuk encore, gerimis turun dan intro Anata berkumandang. Anjis, nulisnya aja sekarang aku masih merinding :’) Yes, I sang my heart out, barengan sama ribuan orang yang ada di sana, yang air matanya juga mungkin mengalir diam-diam, tertutup oleh air hujan. Just exactly like me. Setelah Anata, berturut-turut 4th Avenue Cafe, Link yang dijedain gimmick lempar pisang Tetsu (“Lo mau pisang… Gue?”), dan terakhir Niji. Kemudian Laruku benar-benar mundur ke balik panggung, menutup konser di Jakarta sebagai bagian dari perayaan 20 tahun mereka bersama sebagai sebuah band. Iya banget. Sudah 20 tahun. Artinya om-om itu umurnya udah 40an tapi masih menggila macam anak muda.
Puas? Puas. Serius. Aku bahagia. Rasanya kaya yang dilempar ke jaman muda (?) dan bersenang-senang di sana. Ah, semoga Hyde menepati janjinya buat balik ke Indonesia, dan kita bisa kembali bersua :’)
–
image source : rollingstone.co.id
(including four pics of band member collaged into one)