fill it RIGHT

It’s just a regular lazy Sunday afternoon.
Bedanya, langit sedikit mendung, tidak panas seperti biasanya.

It’s just a regular silly doodling in my sketchbook.
Bedanya lagi, aku tidak melakukan itu sendirian.

I drew first. He drew another. I added more. He added another.
Kemudian halamannya penuh!

Picture this as a blank sketchbook. I will draw my part. And you will do yours, too.
Way to go, kiddo. Way to go :)

distance causes our SILENCE

Hae. Nanya kabarku? Oh ndak? Tetep aku ceritain ya? Plis? ([ ._.])

Kabarku anything but “nothing much.” Karena pada kenyataannya buanyak banget yang terjadi belakangan. Buanyak, like, BUANYAK. Yang bikin ketawa, bikin nangis, bikin dilema, bikin marah, bikin ngilu, bikin ngga tau harus berbuat apa. Too much to handle but i’m so up for this challenge. Saya ndak boleh manja. *keplak keplak pipi sendiri*

Nah, seiring dengan issue yang sendu-sendu, belakangan jadi sering banget dengerin album OMPS. Once. Itu lho, award-winning movie dari Irlandia rilisan tahun 2006 yang dibintangin sama Glen Hansard dan Marketa Irglova. Dua-duanya musisi yang jadi roh film (yang sesungguhnya) musikal ini. Plotnya sederhana, tapi entah mengapa hati ini rasanya kaya dipel melihat setiap scenenya.

Once bercerita soal pria dan wanita yang punya issue percintaannya masing-masing, bertemu, then finding each other so perfect together. Sayangnya, karena beberapa hal, ngga semudah itu mereka bisa bersama. Trus gimana dong? Yah, masa film lama aja mesti dispoiler jugak? Coba aja deh dicari sendiri. Yang pasti, menurutku film ini endingnya bittersweet. Bisa dibilang pait, bisa juga dibilang manis. Tergantung ngeliatnya dari sisi yang mana.

Mungkin karena kebawa sama filmnya, album OMPS-nya bercerita sekali. Iya sih, that’s how movie soundtrack album suppose to be. Cuma, anjis, album ini sempet bikin daku meleleh air matanya beberapa kali. Cengeng, I am :’)

Pada dasarnya aku suka semua lagu di album ini, yang upbeat, medium sampe slowbeat. Selain ‘Falling Slowly’ yang emang populer banget, favorit saya adalah ‘Fallen from The Sky’, ‘Lies’ dan ‘If You Want Me’. Di bawah ini boleh didengarkan si ‘If You Want Me’. Disclaimer : jangan didengarkan saat hujan dan kesepian. Nanti bisa matic. KAPOK!

Marketa Irglova & Glen Hansard – If You Want Me

L’Arc~en~Ciel : 20 Years and COUNTING

Akhirnya tiba saatnya aku mencentang checklist “nonton L’Arc~en~Ciel live performance” dalam kitab Konser Wajib Tonton versi sayah sendiri. Ya, yang itu. L’Arc~en~Ciel 20th Anniversary World Tour : Live in Jakarta, 2 Mei lalu di Lapangan D Senayan. Ah. Such a bliss :’)

Walau pun banyak teman-teman yang ngeceng-cengin : “Aaah ngapain sih lo nonton laruku!” atau “Anjis, laruku band apaan tuh?” atau sampe yang bikin pengen nebalikin meja tumpeng “Laruku bukannya boyband ya?” …. Aaaaku ndak peduli :’) Terserahlah mereka mau bilang apa. Aku datang bukan karena suka sama personilnya yang tsakep atau maniak sama segala yang kejepang-jepangan. I just need to feed my childhood fantasy. Betapa musik Laruku selalu membawa imajinasi ke negeri utopia berlangit sewarna pelangi. Betapa hambatan bahasa seakan ngga ada artinya. Betapa musik Laruku senantiasa membawa rasa bahagia yang entah apa namanya.

Di venue, posisi nontonku ngga begitu deket sih. Di antara row VIP yang pas depan panggung dan row reguler yang crowdnya nampak seru sekali. Udah cukup gembira, pake banget. Meski Hyde, Tetsu, Ken dan Yuki-nya baru bisa keliatan wujud aslinya kalo jinjit-jinjit; tapi bigscreen nan mencrang itu udah cukup banget deh. Angle syutnya juga oke, jadi efek dramatis yang ditunjang sama backscreen yang menampilkan tema antariksa dan image-image utopian itu dapet banget. FYI, itu imagenya parah bagusnya. Bisa jadi film atau game sendiri kali. Masalah sound juga ngga ada hambatan yang berarti, just superfine.

Setlistnya? Banyak! Dua jam lebih, dan lagu-lagu yang emang familiar sama fans Indonesia keluar semua, mulai dari Stay Away, Ready Steady Go, Hitomi No Juunin, Revelation, Driver’s High, Honey, sampe yang baru-baru macem Seventh Heaven atau XXX. Aku dan Lele, temen nonton bareng, bener bersenang-senang. Ngeliatin om Hyde yang kedip-kedip manja meluluk, om Tetsu yang atraktip banget sama si bass pink, om Ken yang cool main gitar sambil meroko, dan Yuki yang kalem tampangnya tapi menggila di balik drum-setnya. Oh iya, selain Lele, ada si Daus juga, seorang penikmat pangrok yang tadinya cih cih sama Laruku. But at the end of the show, Daus mengakui Laruku really put on a good show. Lepas dari selera musiknya, showmanship dan musikalitas Laruku emang keren, katanya. Kan? Kan? :D

Oh iya, speaking of showmanship, tersebutlah sebuah gimmick di mana Ken ngebacain sebuah teks A4 yang isinya cerita pengalamannya cari hadiah buat Hyde di Pasaraya, dengan bahasa Indonesia. Logat khas Nihon-jin yang lucuk, contekan yang usil-setengah-ngerjain-gue-rasa dan seruan “Mantap!” berkali-kali dari Ken, hanjislah, bikin ngakak. Hyde dan Tetsu juga berkali-kali berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Bukan cuma 1-2 kata, tapi beberapa kalimat utuh. Ah. Mereka memang adorable.

Momen paling magical dari konser ini adalah ketika Laruku kembali dari balik panggung untuk encore, gerimis turun dan intro Anata berkumandang. Anjis, nulisnya aja sekarang aku masih merinding :’) Yes, I sang my heart out, barengan sama ribuan orang yang ada di sana, yang air matanya juga mungkin mengalir diam-diam, tertutup oleh air hujan. Just exactly like me. Setelah Anata, berturut-turut 4th Avenue Cafe, Link yang dijedain gimmick lempar pisang Tetsu (“Lo mau pisang… Gue?”), dan terakhir Niji. Kemudian Laruku benar-benar mundur ke balik panggung, menutup konser di Jakarta sebagai bagian dari perayaan 20 tahun mereka bersama sebagai sebuah band. Iya banget. Sudah 20 tahun. Artinya om-om itu umurnya udah 40an tapi masih menggila macam anak muda.

Puas? Puas. Serius. Aku bahagia. Rasanya kaya yang dilempar ke jaman muda (?) dan bersenang-senang di sana. Ah, semoga Hyde menepati janjinya buat balik ke Indonesia, dan kita bisa kembali bersua :’)


image source : rollingstone.co.id
(including four pics of band member collaged into one)

reading SIGN

Pernahkah kamu membaca mencoba tanda-tanda semesta?
Ketika seakan seluruh aspek kehidupan memberikanmu arahan?

Entahlah apa namanya. Tapi aku yakin, saking baiknya si Boss of the Universe kita itu, Beliau suka ngasih petunjuk akan apa yang harus kita lakukan. Bukan, bukan tanda sebangsa wangsit, atau jawaban instan atas segala pertanyaan kita. Tapi lebih ke… puzzle pieces scaterred around us. Kita yang harus jeli menemukan keping-kepingnya, kemudian susah payah menyusunnya. Barulah kemudian menampakkan whole picture-nya.

Uhm, sebagai orang yang ngga peka dan bebal, aku selalu butuh effort ekstra menajamkan hati dan kepala untuk melihat tanda-tanda itu. Terkadang jelas di depan mata lalu aku menafikannya saja. Terkadang tersembunyi, tersirat seperti misteri, dan aku mencari-cari. But I do tryin. Bahkan ketika akhirnya tanda-tanda itu bukan gambaran ideal atas apa yang aku mau sebelumnya. Bahkan ketika aku tau harus jatuh dan lecet-lecet jika mengikutinya. Bahkan ketika jalan yang kutempuh harus memutar jauh.

Sang Dia memberi tanda.
Kepala menimbang baik buruknya.
Hati menyiapkan ‘pasukan anti huru-hara’.

Yes. Reading sign. This is when destiny and effort collide.

feline HAT

Being somehow sucker for mysterious look when certain part of face being covered by mask or scarf or shawl or hat (or even helmet), I thought these cathat (the eye-holes is intriguing!) and chunky shawl are just fit.

I want this look. Enough said.

 


pic taken from here.